Tampilkan postingan dengan label jawa tengah. Tampilkan semua postingan

Basoeki Abdulllah

by picky on Selasa, 09 Februari 2010


Basuki Abdullah (Raden Basoeki Abdullah)
Lahir :
Surakarta, Jawa Tengah, 27 Januari 1915
Meninggal:
1993 Agama :
Katolik
Pendidikan :
-SD Katolik/HIS Pangudi Luhur, Solo (1930) -Bruder School Pangudi Luhur, Solo (1933) -Royal Academy of Fine Arts, Den Haag Negeri Belanda -The Hague 's-Gravenhage, Den Haag, Negeri Belanda -Free Academy of Fine Arts, Den Haag, Negeri Belanda.
Karir :
-Royal Court Artist Istana Raja Muangthai (1963- sekarang) -Dianugerahi Bintang Poporo sebagai Royal Court Artist oleh Raja Muangthai, Bhumibol Adulyadej -Pernah melukis kepala negara, antara lain, Marcos dan Imelda Marcos, Soekarno, Soeharto, Tanom Kittikachorn.

Kegemaran melukis dimulai Basuki sejak usia enam tahun. Suatu kali pria kelahiran Sriwedari, Solo, 27 Januari 1915, ini terbaring sakit, iseng menyontek lukisan Yesus Kristus. Sembari melukis, ia merasakan sakitnya berangsur sembuh. Lantas Basuki beralih dari muslim menjadi nasrani (Katolik).
Pada usia 34 tahun (1949), Basuki mengikuti lomba lukis potret diri Ratu Belanda Juliana. Lomba itu diikuti 81 pelukis dari berbagai penjuru dunia. Tetapi yang mampu menyelesaikan potret Ratu tepat waktu hanya 21 pelukis, termasuk Basuki. Ia bahkan tampil sebagai juara. Sejak itu, Basuki laris sebagai pelukis potret diri.

Basuki mengenal ayahnya, pelukis R. Abdullah Surjosubroto, hanya setelah berusia 15 tahun. Suatu kali, anak kedua dari lima bersaudara ini, menggambar seekor singa yang sedang menerkam. ''Masa melukis macan ketawa,'' canda sang ayah, putra tokoh pergerakan Dr. Wahidin Sudirohusodo. Basuki merasa sakit hati dan terpecut oleh komentar sinis sang ayah. Berangkat dewasa, ia gemar melukis tokoh-tokoh pergerakan, antara lain Mahatma Gandhi. Basuki mulai mengembara tahun 1947. Mula-mula ia belajar melukis di Akademi Seni Lukis Negeri Belanda, kemudian Italia, dan Prancis. Dari 42 tahun bermukim di luar negeri, 20 tahun dihabiskannya di Negeri Belanda, dan 17 tahun di Muangthai. Basuki berhasil menyunting gadis Thai. Pulang ke Jakarta, ia membawa serta istri Thai-nya, diangkat Presiden Soekarno sebagai pelukis Istana Merdeka. Tahun 1961, ia diundang Raja Muangthai, Bhumibol Adulyadej, untuk melukis Raja dan istrinya, Ratu Sirikit, hingga ia menjadi pelukis istana di Bangkok. Dua tahun kemudian, ia menerima anugerah Bintang Poporo sebagai Seniman Istana Kerajaan.
Gayanya yang naturalis, mengejar kemiripan wajah dan bentuk, Basuki disukai kalangan atas. Berbagai negarawan dan istri mereka seperti berlomba minta dilukis Basuki: Presiden Soekarno, Sultan Brunei, Pangeran Philip dari Inggris, Pangeran Bernard dari Belanda, dan kaum jetset kaliber Nyonya Ratna Sari Dewi. Yang datang sendiri ke kediamannya, di perumahan Shangrila Indah, Jakarta, tidak kurang: Jenny Rachman, Eva Arnaz, bahkan Laksamana Sudomo.

Datang karena diundang ke Istana Mangkunegaran, Solo, di masa Revolusi, Basuki luput melukis Nona Siti Hartinah. Ia memilih model lain. Setelah Siti Hartinah menjadi Ibu Negara barulah Basuki berkesempatan melukisnya. ''Kok sekarang mau?'' goda Presiden Soeharto. Basuki berkelit, “Dulu 'kan zaman Orde Lama. Sekarang zaman Orde Baru, jadi saya terima,'' kata Basuki yang sudah melukis 300 potret diri.
Basuki telah tiga kali menikah sebelum bertemu dengan seorang gadis Thai, istri keempatnya. Tiga pernikahan pertamanya kandas. Kisah pertemuannya dengan gadis Thai dimulai dari juri lomba ratu kecantikan tahun 1967. Basuki terpesona pada seorang peserta kontes yang berkulit kuning dan lesung pipi. Gadis itu Nataya Nareerat, istri keempatnya yang terpaut 30 tahun. Mereka memiliki seorang putri yang diberi nama Sidawaty Bharany.

Dullah

by picky

Dullah

Lahir :

Solo, Jawa Tengah,

17 September 1919

Profesi :

Pelukis dan penulis

Karya Buku :

Lukisan-lukisan koleksi DR. Ir. Soekarno, Presiden RI, sebayak 4 jilid diterbitkan di RRC tahun 1956 dan 1961,

Ukiran-ukiran rakyat Indonesia koleksi DR. Ir. Soekarno Presiden RI, diterbitkan di RRC tahun 1961,

Karya dalam peperangan dan revolusi, diterbitkan di Indonesia tahun 1982.

Suatu hari di akhir tahun 1979, pelukis Affandi menjemur seorang muridnya di Pejeng, Bali, tatkala matahari menyengat. Murid yang sudah berusia 60 tahun itu, Dullah, tak berani membantah. Apalagi protes. Affandi lagi kerajingan membuat rekonstruksi poster besarnya di zaman perjuangan, berjudul Boeng Ajo Boeng, yang pernah dianggap sebagai poster perjuangan pertama yang dibuat orang disini.

Dullah dikenal sebagai seorang pelukis realis. Corak lukisannya realistik. Mempunyai kegemaran melukis portrait (wajah) dan komposisi-komposisi yang menampilkan banyak orang (group). Diakui sebagai guru melukisnya adalah dua orang pelukis kenamaan ; S. Sudjojono dan Affandi. Meskipun demikian corak lukisannya tidak pernah mempunyai persamaan dengan dua orang gurunya.

Pernah dikenal sebagai pelukis istana selama 10 tahun sejak awal tahun 1950-an, dengan tugas khas memperbaiki lukisan-lukisan yang rusak dan penyusun buku koleksi lukisan Presiden Soekarno. Dullah juga dikenal sebagai pelukis revolusi, karena dalam karya-karyanya banyak mengetengahkan tema-tema perjuangan selama masa mempertahankan kemerdekaan.

Pada waktu perang kemerdekaan II, saat Yogyakarta diduduki oleh tentara Belanda pada 19 Desember 1949 hingga 29 Juni 1950, Dullah memimpin anak didiknya yang masih belum berumur 17 tahun untuk melukis langsung peristiwa-peristiwa selama pendudukan Yogyakarta sebagai usaha pendokumentasian sejarah perjuangan bangsa. Lukisan-lukisan yang dihasilkan ketika itu diulas di surat-surat kabar bahkan oleh Affandi dinilai sebagai karya satu-satunya di dunia.


Dullah merupakan salah seorang pelukis realis yang jarang berpameran. Tapi pamerannya bersama anak-anaknya di Gedung Agung (Istana Kepresidenan Yogya) tahun 1978, berhasil menarik puluhan ribu orang. Meskipun pameran diperpanjang satu hari, pintu gerbang Gedung Agung bagian Utara sempat pula jebol. Pameran itu dilanjutkan 20 Desember 1979 hingga 2 Januari 1980, di Aldiron Plaza, Jakarta. Banyak orang kecewa karena ia tak menjual lukisannya.

Baginya melukis adalah media untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Dullah termasuk pendiri Himpunan Budaya Surakarta (HBS). Kemudian didirikannya sebuah sanggar di Pejeng, Bali. Pada setiap pameran baik didalam atau diluar negeri, karya murid-muridnya ikut disertakan.

Ia juga menulis sajak. Beberapa sajaknya dimuat dalam bunga rampai sastra Indonesia yang di himpun oleh H.B Jassin. Pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan terbit dalam sebuah kumpulan di Pakistan. Sebuah puisinya yang berjudul Anak Rakyat ditulis tahun 1943 dan dimuat dalam Gema Tanah Air, barangkali sudah mengisyaratkan kegandrungannya kepada tema perjuangan dalam lukisan-lukisannya. Dullah mendirikan museum pribadi di Solo pada tahun 70-an, dan hingga kini museum tersebut masih representatif dan dikelola oleh pemerintah Kotamadya Surakarta.

Banyak lukisan-lukisannya yang menjadi koleksi pejabat-pejabat penting pemerintahan baik dalam maupun luar negeri, tokoh masayarakat dan orang terkemuka, diantaranya Presiden pertama RI Soekarno, Wakil Presiden pertama RI Muhammad Hatta, Adam Malik, mantan Presiden Amerika Serikat Eisenhower, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Walter Mondale, mantan Perdana Menteri Australia Rudolf Menzies dan museum seni lukis di Ceko.

Srihadi Sudarsono

by picky on Rabu, 25 November 2009

Srihadi Sudarsono, M.A

Solo, Jawa Tengah, 4 Desember 1931

Pendidikan :
Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung (1959),
Ohio State University, Amerika Serikat (1962)



Karier :
Tentara Pelajar di Solo(1945-1946),Pembuat Poster Perjuangan di Balai Penerangan TNI Divisi X di Solo (1946-1948),Anggota Tim Elemen Estetik gedung MPR-RI (1964-1966), Anggota Tim Indonesia di Expo-70 Osaka, Jepang (1969-1970),Ketua Departemen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (1971-1973),Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta(1974-1977),

Meski lulus dari Balai Pendidikan Universitas Guru Gambar Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Bandung (kini ITB) tahun 1959, pergaulan Srihadi dengan cat dan warna tidak dimulai dari bangku sekolah. Pada umur 14 tahun di tahun 1945, ia bergabung dengan Tentara Pelajar (TP) di Solo. Setahun kemudian, di Balai Penerangan TNI Divisi X Solo ia membuat poster-poster perjuangan. Kemahirannya dimanfaatkan oleh pimpinan pasukan. Srihadi lebih banyak ditugasi membuat poster yang pada zaman itu tak kalah pentingnya dalam membakar semangat berjuang.

Ia dipindahkan ke Yogyakarta, hingga 1950. Sejak saat itu menetapkan langkahnya sebagai seorang pelukis. Karya-karyanya mulai bergantungan dalam berbagai pameran, tunggal, maupun bersama, di dalam atau luar negeri. Lukisan cat minyak Srihadi ditandai tarikan garis spontan dan kuat, serta sapuan bidang yang luas. Srihadi berusaha menuang suasana. Walau tetap bermula dari bentuk, ia sama sekali tidak formal.

Srihadi dilahirkan pada 4 Desember 1931 di Solo. Ia putra pemilik perusahaan batik yang cukup terkenal, Raden Soedarsono dan Soekatmijah. Menerima Anugerah Seni 1971 dari Pemerintah RI. Ikut dalam Tim Elemen Estetik Gedung MPR-RI periode 1964-1966 dan tim Indonesia ke EXPO-70 di Osaka, 1969-1970. Menerima Cultural Award dari Pemerintah Belanda 1977 dan menerima beasiswa rogram Fullbright, Amerika Serikat, 1979-1980. Pada tahuj 1978 diterimanya Hadiah Karya Seni Lukis Terbaik Biennale III Dewan Kesenian Jakarta.

Tahun 1997, suami dari Siti Farida Nawawi ini pernah mengatakan belum siap membuat buku yang memuat biografi serta pandangan dan pencariannya di dunia seni lukis. Ia merasa sebuah buku bisa menjadi batas penjelajahan dunia rupa seorang pelukis. lantaran hal itu, buku dalam dua edisi ini menghabiskan masa pengerjaan hampir 10 tahun. “Selain karena merasa belum siap, pas mulai dikerjakan Jean Couteau sakit dan harus dirawat di Perancis. Jadi tertunda terus,” tutur Srihadi. “Celakanya lagi, buku yang dicetak sebanyak 400 eksemplar untuk menyongsong peluncuran itu kurang sempurna. Jadi saya mesti hentikan dulu pencetakannya karena ada penurunan kualitas warna lukisan dari aslinya. Istilah orang percetakan, warnanya lari,” tambahnya.

Keputusannya itu menunjukkan Srihadi adalah orang yang sangat memperhatikan detail, bahkan cenderung perfeksionis. Ruang studionya terlihat sangat bersih dan rapi, nyaris tidak terdapat ceceran cat. “Saya tidak bisa bekerja kalau melihat banyak ceceran cat di lantai. Apa pun, usaha seseorang haruslah maksimal untuk mencapai kesempurnaan,” ujar Srihadi. Perjalanan kesenimanan Srihadi Soedarsono penuh kontroversi dari kacamata orang lain, Banyak yang menilai keputusannya untuk melanjutkan studi seni lukis di Fakultas Teknik Bandung Universitas Indonesia (sekarang ITB) tahun 1953, saat di Yogyakarta dirintis pendirian Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) oleh pelukis seperti Soedjojono, sebagai keberpihakan kepada ‘barat’.